https://ejurnal.sttiisamarinda.ac.id/index.php/juita/issue/feed Jurnal Ilmiah Tafsir Alkitab 2024-05-20T06:35:31+00:00 Joko Priyono eliezer.jokko0307@gmail.com Open Journal Systems <p data-sider-select-id="6d8f266d-e7eb-4eaf-a94e-d6074aef606b"><em><strong data-sider-select-id="c1ecad7c-2647-4aed-95c7-6db9ccd6e9ec">JUITA (Jurnal Ilmiah Tafsir Alkitab)</strong></em> is published periodically (in April and October) by Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Samarinda, East Kalimantan, Indonesia. The purpose of this journal is to publish scientific works resulting from the interpretation of the Old Testament and the New Testament, both in the level of words, phrases, verses, chapters, books, even canons.</p> <p data-sider-select-id="6d8f266d-e7eb-4eaf-a94e-d6074aef606b"><em><strong data-sider-select-id="c1ecad7c-2647-4aed-95c7-6db9ccd6e9ec">JUITA (Jurnal Ilmiah Tafsir Alkitab)</strong></em> accepts articles for any subject and approach but based on Bible texts and gospel theological insights. All incoming articles will be evaluated by bestari partners in private (blind review process). The article submitted must be the original work of the author that has not been published in a journal or other publication in any language.</p> https://ejurnal.sttiisamarinda.ac.id/index.php/juita/article/view/2 Strategi Komunikasi Yesus dengan Perempuan Samaria Menurut Yohanes 4:7-26 dan Implikasinya dalam Pengajaran Injil Kontemporer 2024-04-22T14:34:58+00:00 Kumoro Adiatmo dr.kumoro@gmail.com Simon simonpetrus45144@gmail.com <p><em>This research examines Jesus' interaction with the Samaritan woman as recorded in the John 4:7-26, focusing on Jesus' communication techniques and their relevance for contemporary evangelism and Christian teaching. In this dialogue, Jesus combines empathy and inclusivity to reach out to the woman, transcending ethnic and religious boundaries through the use of the "living water" metaphor, which teaches about true and spiritual worship. This study evaluates how Jesus listens and responds deeply to the woman's spiritual needs, integrating a profound understanding of the Messiah into the conversation, demonstrating an adaptive and personal communication approach. The analysis seeks to understand how Jesus’ approach, including the use of provocative questions and message adjustments based on the recipient's context, can be adapted in modern contexts to address a fast-paced and pluralistic society. The conclusions of this research offer insights on how the principles of Jesus' communication can guide modern evangelists and educators in their practice, suggesting strategies for more effective and sensitive communication in response to diversity in the current era</em>.</p> 2024-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 JUITA (Jurnal Ilmiah Tafsir Alkitab) https://ejurnal.sttiisamarinda.ac.id/index.php/juita/article/view/4 Kesatuan Eklesial di Tengah Budaya Individual Berdasarkan Filipi 2:1-4 2024-04-24T16:39:05+00:00 Jhon Kalaka jhonkalaka1984@gmail.com <p>Budaya individualisme yang semula dikenal masif di dunia Barat perlahan mulai merata ke berbagai belahan dunia. Sikap semacam itu rupanya juga telah bersarang di kehidupan gereja masa kini. Individualisme mengarah pada narsisme dan pengabaian seorang akan yang lain. Namun kondisi ini sebetulnya bukan perkara baru. Di zaman gereja mula-mula telah ada hal semacam ini. Nasihat untuk kesatuan dalam Surat Filipi ditulis oleh Paulus untuk menangani adanya individualisme di antara jemaat Filipi yang menimbulkan perpecahan. Artikel ini &nbsp;meneliti Filipi 2:1-4 dalam perspektif eklesiologis guna menunjukkan bahwa Paulus membahas kesatuan eklesial yang pada gilirannya dapat dipakai untuk menangani gaya hidup individualistik. Pertanyaan penelitian yang layak diajukan ialah: apa saja prinsip-prinsip yang dibutuhkan untuk membangun kesatuan eklesial di tengan budaya individual? Melalui metode eksposisi dan studi literatur, ditemukan ada beberapa prinsip untuk mewujudkan kesatuan eklesial di tengah budaya individual, yakni satu dasar kesatuan, empat pilar kesatuan, tiga sifat kesatuan, dan dua sikap kesatuan.</p> 2024-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 JUITA (Jurnal Ilmiah Tafsir Alkitab) https://ejurnal.sttiisamarinda.ac.id/index.php/juita/article/view/5 Kemalasan dalam Perspektif Kitab Amsal 2024-04-26T06:04:32+00:00 Ragil Kristiawan ragil.kristiawan@gmail.com <p><strong>Abstract</strong></p> <p>Proverbs discusses issues that are relevant to everyone wherever they are. This book discusses horizontal issues regarding human relationships with each other. One issue that is quite important is laziness which has become a comprehensive problem in human life today. No previous research has conducted a biblical study regarding laziness from the perspective of the book of Proverbs. This research tries to answer the problem of how Proverbs views laziness. Through literature study using thematic interpretation of Proverbs, an assessment of lazy attitudes based on this book was produced: this attitude will not bring any benefits at all. For those who expect satisfactory results from lazy people, it will definitely result in disappointment. Laziness will give birth to forced labor, you will not succeed in everything you do, you will become the brother of the destroyer, you will starve, you will never reap, and you will not get anything in your life. The lazy person's life will ultimately be killed by his desires. The Book of Proverbs gives advice to lazy people so that they continue to learn from ants in terms of discipline. Even though ants are weak animals, they are famous for their craft. In the end, discipline is an effective medicine for all lazy attitudes that arise in the lives of believers in all places and times.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Lazy, Point of View, Proverbs</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kitab Amsal membicarakan topik-topik persoalan yang relevan dengan semua orang dimanapun mereka berada. Kitab ini membahas isu-isu horisontal berkenaan dengan hubungan manusia dengan sesamanya. Salah satu isu yang cukup penting adalah mengenai kemalasan yang telah menjadi masalah menyeluruh dalam kehidupan manusia di jaman sekarang. Penelitian-penelitian terhahulu belum ada yang melakukan kajian biblika mengenai kemalasan dalam sudut pandang kitab Amsal. Penelitian ini mencoba menjawab permasalahan tentang bagaimana cara pandang Amsal mengenai kemalasan. Melalui studi kepustakaan dengan menggunakan pendekatan tematis atas Amsal, maka dihasilkan penilaian akan sikap malas berdasarkan kitab ini: sikap ini sama sekali tidak akan membawa keuntungan. Bagi mereka yang mengharapkan hasil memuaskan dari orang yang malas pasti akan membuahkan kekecewaan. Kemalasan akan melahirkan kerja paksa, tidak akan berhasil dalam segala hal yang dilakukan, menjadi saudara si perusak, akan mengakibatkan kelaparan, tidak pernah menuai, serta tidak akan mendapatkan apapun dalam kehidupannya. Kehidupan si pemalas pada akhirnya akan dibunuh oleh keinginannya. Kitab Amsal memberikan saran kepada pemalas untuk mereka terus belajar kepada semut dalam hal kedisiplinan. Walaupun semut binatang yang lemah, tetapi mereka terkenal akan kerajinannya. Pada akhirnya, kedisiplinan merupakan obat yang ampuh bagi segala sikap malas yang timbul dalam kehidupan orang percaya di segala tempat dan jaman.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Malas, Sudut Pandang, Kitab Amsal</p> 2024-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 JUITA (Jurnal Ilmiah Tafsir Alkitab) https://ejurnal.sttiisamarinda.ac.id/index.php/juita/article/view/6 Percakapan Teologis “Dua Bagian Roh” dalam 2 Raja-Raja 2:9-12 Sebagai Integrasi Terhadap Suksesi Kepemimpinan 2024-04-28T07:47:35+00:00 Anon Dwi Saputro anondwi@gmail.com Nova Huwae huwae.novasttiiambon@gmail.com <p>Kisah tentang "dua bagian roh" dalam 2 Raja-raja 2:9-12 menyajikan gambaran transisi kepemimpinan rohani yang penting dalam sejarah Israel kuno. Penelitian ini mengeksplorasi teks tersebut dari sudut pandang teologis dan kepemimpinan, dengan fokus pada integrasi Suksesi kepemimpinan yang diwakili oleh Elisa sebagai pengganti Elia. Metode penelitian melibatkan analisis naratif, dengan penekanan pada konteks sejarah, budaya, dan teologi yang melatarbelakangi narasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permohonan Elisa untuk "dua bagian roh" dari Elia mengandung implikasi mendalam terkait dengan tanggung jawab, ketergantungan pada Allah, dan kesetiaan dalam melayani. Integrasi ini menyoroti pentingnya pengakuan akan ketidakcukupan diri dan ketergantungan pada kuasa Allah dalam memimpin umat-Nya. Elisa, sebagai pewaris kenabian, mewakili kesetiaan yang tekun dan ketaatan yang kokoh dalam mengemban tugas ilahi. Penelitian ini merelevansikan kisah tersebut bagi kehidupan Kristen masa kini, dengan menekankan pentingnya komitmen, kesetiaan, dan ketergantungan pada Allah dalam kepemimpinan gerejawi dan pelayanan rohani. Kesimpulannya, 2 Raja-raja 2:9-12 memberi pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip kepemimpinan rohani yang penting bagi umat Allah.</p> 2024-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 JUITA (Jurnal Ilmiah Tafsir Alkitab) https://ejurnal.sttiisamarinda.ac.id/index.php/juita/article/view/7 Bersukacitalah Senantiasa: Sebuah Perintah Di Tengah Masa Disrupsi Menurut Filipi 4:4 2024-04-28T14:35:59+00:00 Joko Priyono eliezer.jokko0307@gmail.com <p><em>This study aims to investigate the meaning and implications of the commandment for everlasting joy, as contained in Paul's letter to the congregation in Philippi, in the context of the disruptive times faced by individuals and modern societies. In Philippians 4:4, Paul emphasizes the importance of a joyful attitude in God, even in situations full of trouble and uncertainty. However, although this teaching has existed for centuries, there is still a gap in theoretical and practical understanding of how this concept can be applied and understood in the context of daily life that is full of disruption. Through an interdisciplinary approach that integrates theology, psychology, and social sciences, this research will explore how this concept of joy is understood and practiced by individuals and societies in the face of the challenges of the hard times. Thus, this research is expected to provide a new insight that is beneficial to our understanding of how to live a life full of joy and hope, even in the midst of striking trials</em>.</p> 2024-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 JUITA (Jurnal Ilmiah Tafsir Alkitab) https://ejurnal.sttiisamarinda.ac.id/index.php/juita/article/view/8 Esensialitas Korban Kristus Yang Multidimensional dalam Ibrani 10 2024-04-30T07:15:47+00:00 Penina Itlay peninaitlay100@gmail.com Saul Arlos Gurich saularlosgurich@gmail.com Paulus Dimas Prabowo paul110491@gmail.com <p>Inti dari doktrin Kristen terletak pada keyakinan yang mendalam bahwa dalam penyaliban Yesus dari Nazaret, Sang Allah dan Sang Manusia bersinggungan dengan cara yang selamanya mengubah jalannya sejarah manusia. <strong>&nbsp;</strong>Namun dimensi dari korban Yesus Kristus dimaknai secara beragam dengan berbagai model, yang setidaknya menyentuh aspek soteriologis dan moralitas. Namun adakah dimensi lain yang digapai melalui pengorbanan Kristus? Artikel ini hendak menunjukkan kepada pembaca bahwa Ibrani 10 memperlihatkan jangkauan dimensi yang lebih luas dari korban Kristus. Melalui metode eksposisi yang ditunjang dengan studi literaur, diperoleh bahwa korban Kristus menyentuh lima dimensi, yakni: pertama, dimensi soteriologis, yakni korban Kristus berkuasa menghapuskan dosa (ay. 1-10); kedua, dimensi seremonial, yakni korban Kristus mengakhiri sistem korban Perjanjian Lama (ay. 11-18); ketiga, dimensi relasional, yakni korban Kristus membuka jalan bagi umat percaya kepada Allah (ay. 19-25); keempat, dimensi eskatologis, yakni korban Kristus mengingatkan penghakiman manusia (ay. 26-31); kelima, dimensi spiritual, yakni korban Kristus mendorong ketekunan di tengah derita (ay. 32-39).</p> 2024-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 JUITA (Jurnal Ilmiah Tafsir Alkitab) https://ejurnal.sttiisamarinda.ac.id/index.php/juita/article/view/9 Prinsip Misi Trans Budaya Menurut Kisah Para Rasul 17:16-34 2024-05-20T06:35:31+00:00 Hendra Aritonang hendraaritonang87@gmail.com <p>Penelitian ini mengkaji prinsip-prinsip misi lintas budaya seperti yang disajikan dalam Kisah Para Rasul 17:16-34. Penelitian ini didorong oleh kesalahpahaman yang umum tentang teks ini dalam misiologi kontekstual, analisis yang kurang optimal tentang misi Paulus di Athena, dan pemahaman yang tidak memadai tentang misi lintas budaya dalam konteks gereja. Metodologi penelitian menggunakan pendekatan historis-kritis terhadap Kisah Para Rasul 17:16-34. Temuan menunjukkan bahwa misi lintas budaya harus dimulai dengan motif yang murni dan adaptasi situasional, yang didasarkan pada pemahaman dan respons terhadap kebutuhan komunitas lokal. Selain itu, misi ini harus mengintegrasikan konteks teologis komunitas lokal sebagai jembatan untuk memberitakan Injil. Menghindari etnosentrisme muncul sebagai prinsip penting untuk memastikan bahwa misi tidak ditolak oleh masyarakat lokal.</p> 2024-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 JUITA (Jurnal Ilmiah Tafsir Alkitab)